Sejarah dan Profile Yayasan Assalaam Bandung

oleh -491 Dilihat
oleh

TAGARISLAM,- Setelah mengemban ilmu dari berbagai pesantren, pada tahun 1930, Sayyid Utsman yang lebih dikenal dengan panggilan Habib Utsman ini mulai mengadakan pengajian dari rumah ke rumah. Peserta pengajian ini pada mulanya adalah kalangan orang tua dan rumah yang paling sering dijadikan tempat pengajian adalah rumah R.K. Hardja Diwinangun, dengan memanfaatkan ruangan tengah sebagai tempat pengajian kaum ibu dan ruangan depan untuk para bapak.

Pengajian yang pada waktu itu masih sangat langka dan selalu mendapatkan pengawasan dari pihak penjajah Belanda semakin hari semakin terus berkembang sehingga mencapai anggota sebanyak seratus lima puluh orang. Karena rumah pengajian sudah tidak dapat menampung para pesertanya, atas sokongan R.K. Hardja Diwinangun dan H. Muhammad, pada tahun empat puluhan dibangunlah sebuah mesjid di atas tanah wakaf H. Muhammad, sebagai tempat pengajian yang lebih luas, yang kemudian dikenal dengan sebutan “Langgar Banjar.” Mesjid ini diberi nama “Assalaam.”PPengajian yang pada waktu itu masih sangat langka dan selalu mendapatkan pengawasan dari pihak p

setelah mesjid Assalaam ini berdiri, Habib Utsman kemudian mendirikan pula “Perkumpulan Yatim-Miskin dan Pengajian Wiridan Ikhlas Ati” yang disusul dengan pendirian Pesantren Gadis Islam (PGI) pada tahun 1942 yang dipimpinnya bersama-sama dengan R.G. Siti Sa’diyah AR, putri R.K. Hardja Diwinangun, dan bertempat di jalan Dewi Sartika 117 Bandung.

Sekembalinya dari pengungsian saat tragedi Bandung Lautan Api, Habib Utsman memulai lagi memakmurkan mesjid Assalaam yang ditinggalkannya selama lima tahun. Untuk mengokohkan keberadaannya itu, maka pada tanggal 18 November 1952 didirikanlah Yayasan Assalaam. Dengan menyebutkan dirinya sebagai ‘guru agama’ Habib Utsman Al Aydarus yang bertempat tinggal di Jalan Sasak Gantung, 82/18B Bandung, bersama-sama dengan Raden Djuwarsa, seorang partikelir yang bertempat tinggal di Jalan Merdeka 37 Paviliyun, Mas Wirasoedarma yang bertempat tinggal di Jalan Pasundan 132/18B,  Ir. Raden Haji Mohamad Enoch yang bertempat tinggal di Jalan Sultan Agung 3, Mas Mohamad Adjidji, pegawai Kantor Pendaftaran Tanah, yang bertempat tinggal di Jalan Kaum Tengah 12/15A, Umar Mansoer, seorang saudagar yang bertempat tinggal di Jalan Raya Timur 321A, dan  Gaos Kartamihardja, pegawai Kota Besar Bandung, bertempat tinggal di Jalan Pasundan 38 Bandung menghadap Notaris Mr. Raden Soerdja untuk mengukuhkan keberadaan yayasan ini.

Kegiatan Yayasan ini terus berkembang dengan bertambahnya kegiatan pengajian Reboan untuk Warga Pengajian Wanita Assalaam (WPWA) dan pengajian Mingguan. Dari jamaah pengajian inilah muncul gagasan untuk mendirikan sekolah, mulai dari tingkat yang terendah sampai perguruan tinggi.

langkah awal dalam unit pendidikan, pada tahun 1957 dibangunlah Taman Kanak-kanak (TK) yang pada waktu itu masih belum banyak diminati dan hanya dipandang sebagai tempat bermain-main saja. Kendati demikian, Habib Utsman tetap melaksanakan tekadnya dengan penuh keyakinan bahwa pendidikan anak itu harus dilakukan sedini mungkin agar si anak dapat dengan mudah menghapal dan mempelajari dasar-dasar pendidikan, terutama ajaran keimanan dan ketakwaan. Kepala sekolah pertama dipegang oleh Ibu R.H. Siti Sa’diyah yang dibantu oleh wakilnya, Ibu Wiwiek S.E.

 

Taman Kanak-kanak ini ternyata mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat. Untuk menampung lulusan TK ini maka pada tahun berikutnya (1958) didirikanlah Sekolah Rakyat Assalaam (SRA) yang pengelolaannya dipercayakan kepada R.K. Kartawisastera. Sebagaimana juga TK, SRA ini mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat.

Lima tahun kemudian, pada tahun 1963, didirikanlah Sekolah Rakyat Assalaam II untuk menampung peserta didik yang semakin hari semakin bertambah. Kepala sekolah untuk SRA I ini dipegang oleh Dadang Tsumina, S.H. sedangkan SRA II dipimpin oleh Ibu Wiwiek Wiarsih. Kegiatan Yayasan Assalaam semakin semarak dengan keterlibatan Habib Utsman di organisasi Nahdlatul Ulama. Gedung Sekolah Rakyat, yang kemudian berganti nama menjadi Sekolah Dasar Assalaam

 

Sebagai kelanjutan dari pendirian TK dan SD Assalaam, pada awal tahun 1972 didirikanlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) Assalaam. Kepemimpinan SMP ini dipercayakan kepada Ibu H.A. Djunaedi WD yang berhasil memimpin SMP Assalaam ini selama enam belas tahun (1973-1989).

Pada tanggal 7 Maret 1985, pendiri dan tokoh utama di Yayasan Assalaam berpulang ke Rahmattullah meninggalkan amal jariyah berupa Yayasan dan unit-unit yang berada di bawah naungannya. Kepemimpinan Yayasan kemudian dialihkan kepada putranya K.H. Drs. Habib Syarief Muhammad Al-Aydarus.

 

Selain itu, Sekolah Menengah Atas (SMA) Assalaam juga berdiri di atas tanah 100 tumbak di Jalan Situtarate, Cibaduyut, Bandung, bekerja sama dengan pimpinan Teknos, Drs. Uki Kustman, pada tanggal 14 Februari 1987. Kepemimpinannya diserahkan kepada Drs. H. Ma’sum Ma’mur yang dibantu oleh Syofyan Munawar BA dan guru-guru lainnya.

 

Pada tahun 1990, Taman Pendidikan Al Qur’an juga berdiri untuk memenuhi permintaan akan pendidikan baca tulis Al Qur’an bagi anak-anak TK dan SD yang kepemimpinannya dipercayakan kepada Drs. Ayat Mahmud Hidayat sebagai Kepala Sekolah dan Mochammad Aly Azis sebagai wakilnya (1990-1993) dan kemudian dilimpahkan kepada Eny Suniarsih BA sebagai Kepala Sekolah dan Irwana Aji sebagai wakilnya (1993-1995).

 

SMK Assalaam berdiri dan diresmikan pada tanggal 2 Mei 2009. Dengan Kepala Sekolah H. Muhammad Luthfi Almanfaluthi, ST. Pada tahun tersebut SMK ini baru membuka satu kompetensi keahlian, yaitu Teknik Kendaraan Ringan. Sedangkan pada tahun keempat, tepatnya tahun 2013 SMK Assalaam akan membuka kompetensi keahlian Rekayasa Perangkat Lunak dan Tahun 2014 membuka kompetensi keahlian Teknik Sepeda Motor. SMK Assalaam telah terakreditasi oleh badan Akreditasi Nasional dengan predikat A (Amat Baik)

Yayasan Assalaam pada bulan Mei 2009 menerima wakaf dari Ibu Hj. Pipih Nafisah, BA sebidang tanah seluas 1824 m2 yang berlokasi di Mandala VI No. 132 Kel. Jatihandap Kec. Mandalajati Kota Bandung. Pada bulan Agustus 2009 oleh KH. Habib Syarief Muhammad selaku Ketua Umum Yayasan dilaksanakan peletakan batu pertama Pembangunan Pondok Pesantren Tahfizh Al-Quran. Setahap demi setahap selain pesantren untuk menunjang keberadaan santri dirintis pula pendirian Madrasyah Tsanawiyah (MTs), dan mulai penerimaan siswa barunya di tahun ajaran 2011-2012. Pimpinan unit Pesantren sekaligus kepala MTs. Dipercayakan kepada Ust. H. Malik Zenal Mutaqqien, S.Ip, M.Pd. Pada tahun pertengahan tahun 2017 kepemimpinan MTs dipimpin oleh Dery Jamaludin, M.MPd

 

 

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.